Profil KH.Achmad Alfatich Abdurrohim
Sekilas Pandang KH. Achmad Alfatich Nama lengkap beliau adalah
Ahmad Alfatich AR. Dua huruf dibelakang selalu beliau cantumkan. Mungkin karena
adanya rasa rindu pada ayah yang tidak beliau ingat dengan pasti bagaiman rupa
wajahnya. KH. Achmad Alfatich lahir pada tanggal 27 Desember 1933, sebagai anak
pertama. Beliau ditinggal wafat oleh ayahnya, Abdur Rahim pada usia yang masih
belia. 10 tahun (1943). Beliau merupakan sosok pemuda yang sangat progresif dan
berpikiran maju pada zamannya. Namun uniknya, beliau juga dikenalendah hati. Tidak menyukai banyak bicara tentang hal - hal strategis apa
pun yang sedang dilakukannya.Itulah tipikalnya:tenang tapi pasti. KH.Achmad
Alfatich hidup dan besar di Yogyakarta pada zaman kemerdekaan.Teman- temannya
mengenal beliau mahir dalam 8 bahasa. Bahasa Inggris, Belanda, Jerman,
Perancis, Portugis, Jepang, Arab,dan Indonesia . Beliau seorang pemuda yang
independen dan berfikiran maju.Independensi dan kemandirian yang menjadi
karakternya telah terbentuk dan terasah sejak kecil. Beliau sudah mengenal
Pendidikan formal dan bangku kuliah di perguruan tinggi pada saat lingkungan
dan pemuda sebayanya menabukan model pendidikan seperti itu. Hal demikian tidak
mengherankan ketika mengetahui bahwa Achmad Alfatich adalah pemuda berasal dari
2 keluarga besar. Ya, Achmad Alfatich adalah putera 2 keluarga besar :NU dan
Muhammadiyah. Abdur Rahim ayahnya, adalah adik dari KH.Abdul Wahab Chasbullah,
pendiri dan penggerak NU.Sedangkan Siti Wardiyah ibunya, adalah keponakan KH.
Achmad Dahlan, pendiri dan Muhammadiyah. Kisah persahabatan antara KH.Abdul
Wahab Chasbullah dan KH. Achmad Dahlan di tanah suci Mekkah-lah yang
menakdirkan adanya pernikahan Abdur Rahim dan Siti Wardiyah. Achmad Alfatich
dengan demikian merupakan manifestasi persahabatan dua tokoh besar :Abdul Wahab
Chasbullah dan Achmad Dahlan. Achmad Alfatich mengenyam jenjang pendidikan
Bachelor of Arts di suatu perguruan tinggi di kota perjuangan dan pergerakan
nasional :Yogyakarta. Hingga suatu ketika pada level tersebut, beliau
mendapatkan kesempatan memilih kelanjutan study -nya ke texas USA atau Cairo
Mesir . Ini adalah sebuah kesempatan Emas bagi beliau. Namun kondisi tidak
ideal pada seluruh aktifitas madrasah di pesantren tanbakberas, yang menjadi
jantung kegiatan pesantren tersebut , memanggil nurani beliau untuk kembali
mengurus madrasah , dan ‘terpaksa’ mengabaikan kesempatan emas yang ada di
depan mata .Madrasah dan pesantren mengalami management-loss. KH.Abdul Fattah Hasyim
,yang selama ini bertugas mengurus segenap kegiatan pesantren dan madrasah ,
memanggil pulang karena membutuhkan support dan endorse seorang Achmad Alfatich
. Tidak adakah orang lain ? Ada, kakak sepupunya yang juga berfikiran maju tegas
dalam memegang prinsip :Muchtarotul Mardhiyyah . dan progresif :Mohammad
Najib Wahab. Karena jarak yang sangat jauh ,maka orang terdekatlah yang
dipanggil KH.Abdul Fattah Hasyim untuk membantunya . Di benua lain , Mohammad
Najib Wahab pun tidak main-main dalam pergulatannya di Al –Azhar Univercity
Cairo . Beliau berhasil menyabet gelar L.M.L.(Licence of Muhammadan Law )
dengan yudisium cum –laude, dan sekaligus meneguhkannya sebagai orang Asia
Tenggara pertama yang menyabet gelar tersebut . Atas prestasinya, Mohammad Najib
Wahab secara khusus mendapat penghargaan dari presiden Mesir saat itu :Gamal
Abdul Nasser.Di Tanah Air , kesempatan yang pernah diterima Achmad Alfatich
untuk mengikuti jejak kakaknya pun perlahan tersapu banyaknya tugas berat
:menjamin kesejahteraan para guru dan pengajar yang mengabdikan hidup di
madrasah dan pesantern tambakberas.
KH. Achmad Alfatich dipanggil oleh-Nya pada tanggal 22 Muharram
1996 (1416). Setelah beberapa hari berada di Rumah Sakit Umum Daerah Swadana
Jombang.Meninggalkan seorang istri yang sangat setia dan dikenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar